YEA! I’m back with more post.. kali ini gw akan melampirkan hasil wawancara gw dengan……. ENG ING ENG!
PESERTA OLIMPIADE KOMPUTER INTERNASIONAL 2007 DI ZAGREB, KROASIA. His name is.. Riza! sosok yang loyal dalam memberikan contekan ketika UTS ini memang GENIUS ASLI tidak seperti kerabat2nya yang yaaa.. mungkin juga pintar tapi SANGAT TIDAK LOW-PROFILE!ahahahahaa well, selamat menikmati tulisan yang juga muncul di buletin ReadIT dari Himakomedia (medianya himpunan mahasiswa ilmu komputer ugm).
RIZA OKTAVIAN NUGRAHA SUMINTO :
ANAK OLIMPIADE INTERNASIONAL SULIT DAPAT KULIAH
AHMAD MIZAN FANSURI
Pembaca ReadIT yang budiman, mungkin sedikit diantara anda sekalian yang mengetahui bahwasanya ada seorang maba (mahasiswa baru) Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada, Jurusan Matematika, Program Studi Ilmu Komputer, yang baru saja pulang dari Zagreb, Kroasia, membawa medali perunggu dalam 19th International Olympiad in Informatics 2007. Ia adalah seorang Riza Oktavian Nugraha Suminto. Putra Kudus alumni SMA Taruna Nusantara yang lahir pada tanggal 3 Oktober 1990 ini adalah satu diantara empat orang siswa yang mewakili indonesia dalam Olimpiade Komputer Nasional yang sangat bergengsi dan merupakan ajang pembuktian para programmer muda dari seluruh penjuru dunia. Zaza dari ReadIT sungguh beruntung dapat berbincang-bincang dengan sosok yang walaupun prestasinya bertaraf internasional namun tetap sangat rendah hati. Berikut ini cuplikan perbincangan kami yang sangat perlu diketahui oleh para mahasiswa, mahasiswa FMIPA UGM pada khususnya untuk dijadikan bahan rujukan dan motivasi untuk kedepannya.
Halo, Riza! Apa kabar?
Alhamdulillah baik Za, cuman ini saja kakiku masih sakit karena jatuh dari sepeda beberapa hari yang lalu..
Oh ya, tapi ngga apa-apa kan?
Ngga, buktinya aku masih bisa ikut kuliah dan bolak balik MIPA utara selatan.
Hahaha, baguslah kalau begitu! Nah, kita dari ReadIT ingin tanya-tanya sedikit tentang partisipasi kamu di International Olympiad in Informatics (IOI) tanggal 15-22 Agustus lalu, boleh kan?
Oh, boleh, boleh..
Eh iya, sebelumnya selamat dulu dong atas prestasi kamu mendapatkan medali perunggu!
Wah, terima kasih.., terima kasih.
Ok, jadi ceritain dong secara singkat kok kamu bisa kepilih dan berangkat ke Zagreb mewakili Indonesia?
Ya jadi, pertama aku menang Olimpiade Sains Nasional dalam programming di Semarang waktu aku kelas 2 SMA. Setelah itu sekitar 30 orang yang lolos mengikuti pelatihan nasional di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung. Disini kami dilatih dan juga diseleksi hingga jumlah kami menyusut jadi 16 orang. Diseleksi lagi di ITB dalam Pelatnas II dan lolos ke 8 besar. Menyusul Pelatnas III di Universitas Indonesia hingga terpilih 4 orang wakil IOI. Nah, Alhamdulillah aku masuk ke empat besar ini untuk kemudian dikirim ke Zagreb untuk ikut IOI 2007. Sebelum keberangkatan, kami sempat dilatih kembali dalam Pelatnas IV di UI selama 3 minggu untuk “pemanasan” sebelum IOI.
Wah, panjang juga perjalananmu..
Iya, pelatnasnya saja kalau ditotal kira-kira sampai sebelas minggu.
Hmm, kalau pemrograman sendiri sudah belajar dari kapan?
Sejak aku kelas 1 SMA. Pertama aku ikut yang namanya Taruna Nusantara Computer Club (TNCC). Disini kita bisa belajar bidang-bidang dalam ilmu komputer yang kita minati, tapi konsentrasi utamanya untuk menyiapkan Olimpiade Sains Nasional. Aku sendiri memilih pemrograman dan banyak belajar di TNCC ini selain secara otodidak belajar sendiri dan coba-coba. Kakak-kakak kelas juga selalu aktif mengajari. Dari sini baru aku mewakili Taruna Nusantara untuk berpartisipasi di ajang nasional. Dan setelah 2 kali mencoba akhirnya aku lolos ke OSN.
Hebat.., hebat..By the way, bahasa pemrograman apa yang paling kamu kuasai?
Pascal. Soalnya Pascal itu nggak sekejam C atau C++ kalau menurutku. Sampai sekarang pun aku belum terlalu bisa C++. Tapi pengen juga sih belajar C++, karena lebih powerful daripada pascal.
Okay, trus ceritain dong tentang IOI kemarin. Ngapain aja kamu disana?
Ya, jadi kita di Zagreb kira-kira seminggu. Tapi kompetisinya sih cuma dua hari. Di hari-hari lainnya kita banyak ekskursi (Jalan-jalan,RED) keliling kota Zagreb.
Gimana pendapatmu tentang kota Zagreb?
Hmm.., bagus.. kotanya kuno gitu. Tapi sepi, penduduknya sedikit.
Mengenai kompetisinya sendiri bagaimana?
Wah, ketat! Pesertanya saja 285 orang dari 80an negara. Soal-soal yang diberikan waktu kompetisi juga termasuk sulit. Kebanyakan menekankan pada algoritma pemrogramannya. Jadi kami diberi suatu masalah kemudian disuruh membuat suatu program untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Wah, sepertinya sulit.., tapi kamu berhasil dapat perunggu kan..
Iya. Malah semua wakil dari Indonesia keempatnya dapat medali perunggu. Padahal pertamanya kami sempat pesimis..
Lah, kenapa?
Soalnya nilai kami berempat termasuk sedang. Jadi di tahun-tahun kemarin nilai paling rendah peraih medali perunggu IOI itu 214. Sedangkan nilai kami 230, 208, itu nilaiku, 205, dan 203. Jadi yang kami harapkan cuma Brian Marshall dari SMA BPK Penabur Bandung yang mendapatkan nilai 230. Tapi ketika pengumuman pemenang ternyata Karol Danutama dari SMA Kanisius Jakarta yang dapat nilai 203 dipanggil untuk menerima medali perunggu. Kami langsung berteriak senang. Karena ketiga orang yang lain sudah pasti dapat medali.
Luar biasa! Bagaimana perasaan kamu waktu menerima medali?
Senang. Bangga. Cuman ada menyesalnya juga.. harusnya kami bisa lebih baik daripada ini. Aku sendiri merasa terbebani dengan skorku yang lumayan tinggi di hari pertama kompetisi jadi ketika hari kedua nilaiku agak jatuh dibanding yang lain yang malah naik.
Orangtuamu juga pasti bangga dong..
Iya, meski pertamanya ketika masih pelatnas di ITB mereka masih biasa-biasa saja tapi ketika aku lolos ke 16 besar, mereka lalu mensupportku habis-habisan.
Sip, sip! Terus yang memenangkan IOI kesembilan belas ini siapa? Negara apa?
Kalau yang mendapat nilai tertinggi itu Tomasz Kulczyaski dari Polandia. Kalau negara yang menang China karena keempat perwakilannya meraih medali emas. Indonesia sendiri adalah ranking 35 dari 80an negara peserta meski Indonesia ranking paling bwah diantar negara-negara Asia Tenggara, Thailan, Vietnam, dan Singapura.
Kalau kamu ranking berapa?
128 dari 285 peserta.
Wow. Berarti kamu termasuk 150 besar top programmer dunia dong yah, hehe. Terus mengenai peserta dari negara-negara lain bagaimana?
Bagaimana apa maksudnya?
Yaa, kamu tentu banyak bersosialisasi dengan mereka kan, bagaimana sikap mereka terhadap kamu dan perwakilan dari Indonesia?
Wah, pertamanya aku sempet takut dan minder juga melihat mereka semua kelihatannya pinter-pinter banget. Tapi setelah kenalan dan ngobrol-ngobrol ternyata kebanyakan ramah-ramah. Ngga keliatan tuh yang namanya suasana persaingan yang membatasi satu peserta dengan peserta negara lain.
Oh ya?
Iya. Contohnya, waktu ekskursi setelah kompetisi hari pertama kan kami pergi ke suatu danau. Di sana kami bertemu perwakilan dari Amerika lalu kami kenalan dan ngobrol-ngobrol. Kami bahkan sempat berdiskusi tentang soal-soal yang dikeluarkan pada hari pertama dan mereka menjelaskan dengan senang hati.
Owh begitu.. Ada pengalaman seru apa lagi selama di sana?
Banyak sih.., seperti yang buat agak kesal yaitu seorang peserta dari Bulgaria yang masih berumur 14 tahun tapi berhasil mendapatkan medali emas. Sampe gemas aku melihatnya, hahaha.
Hahaha, hebat juga ya dia.
Ya. Ada juga beberapa peraih medali emas yang perempuan.
Terus Za, ada harapan-harapan khusus ngga untuk kedepannya nanti?
Harapan untuk apa siapa nih?
Untuk kamu sendiri, dan Indonesia mungkin..
Mmmm, buat aku sendiri mungkin aku ingin terus belajar lebih banyak lagi dan ikut berbagai kompetisi lagi. Untuk para mahasiswa setahuku lebih banyak lagi ajang kompetisi dalam bidang Informatika seperti ACM ICPC dan Google Code Jam. Aku ingin ikut dan meraih lebih banyak prestasi lagi.
Nicely said. Terus?
Untuk Indonesia aku ingin bilang sesuatu.. apresiasi pemerintah terhadap pemenang olimpiade yang bahakan bertaraf Internasional menurutku masih sangat kurang. Kami yang baru pulang dari Zagreb sempat kesulitan mendapatkan kuliah. Aku sendiri tidak diterima di ITB dan temanku Brian Marshal masuk ITB hanya di jurusan matematika. Bukan di Teknik Informatika yang seharusnya erat sekali kaitannya dengan ilmu yang sangat ia kuasai. Akhirnya Brian mengajukan permohonan ke NTU (National Technology University) Singapura dan ia akan belajar di sana mulai tahun depan. Kalau begini terus bisa-bisa bibit-bibit unggul negara kita terus menerus dicabuti oleh negara lain sampai tak tersisa.
Benar juga kamu. Jadi kamu masuk UGM terpaksa dong, hehe.
Ngga juga. Aku suka kok menjadi bagian dari Ilmu Komputer UGM. Apalagi aku dikasih beasiswa. Aku sudah mulai bisa menikmati belajar disini untuk mempersiapkan masa depanku.
Hahaha, bagus-bagus.. aku juga senang kok di Ilkom, hehehe ga ada yang nanya ya..
Hehehe.
Okelah, kayaknya sudah cukup lama aku menghabiskan waktumu untuk ngobrol-ngobrol ngalor ngidul.
Ngga apa-apa kok.
Terima kasih ya.. dan sekali lagi selamat atas pencapaianmu. Mudah-mudahan di masa depan kamu bisa lebih berprestasi lebih banyak dan lebih hebat lagi.
Amin.. Sama-sama ya Za.
Nah demikianlah hasil ngobrol-ngobrol Zaza dengan Riza, mudah-mudahan bisa memacu dan memotivasi para pembaca ReadIT untuk terus belajar dan berkarya sehingga muncul Riza-Riza yang lain yang bisa mengharumkan nama UGM dan Indonesia.
Ancur temen lo pinter amat za…
BTW lu nulis bwt buletin?
Zagreb, gw kirain negeri bikinan lo sendiri kayak Zaza’s Republic or something…
halo ZaZa..menarik nih wawancara kamu dengan Riza..nah. berhubung kami sedang bikin program tunas bangsa (profil tentang mahasiswa berprestasi)di global tv, kami mau meliput keseharian Riza sebagai mahasiswa yang punya prestasi oke banget ini, kalau boleh info nomor kontak Riza? tim liputan kami rencananya akan berangkat ke yogya sekitar tgl 11 april 2008. terima kasih
Yuli-reporter
0817-832482